Membesarkan anak- anak di era digital, sedikit banyak
memberikan tantangan tersendiri bagi orangtua milenial seperti saya. Mengingat kedua
orangtua sehari – hari bercengerama dengan perangkat digital, maka tak heran
jika kedua putri saya, Kirana (6 tahun) dan Aruna (4 tahun), sudah mengenal
teknologi dalam wujud gadget semenjak usia dini. Children see, children do.
Begitulah kata pepatah.
Bagi saya, mengenalkan anak dengan perangkat digital di usia
dini bukan hal yang tabu. Karena bagaimanapun juga mereka adalah anak – anak
yang lahir di tengah peradaban teknologi yang terus berkembang. Maka sebagai pendidik pertama dan
utama bagi anak, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan
teknologi pada anak secara bertahap, agar mereka tidak ketinggalan jaman.
Untuk saat ini, saya mengenalkan perangkat digital sebagai
media belajar dan sarana hiburan pada
anak. Sejauh ini, bermain dan belajar dengan media perangkat digital banyak
memberikan manfaat bagi perkembangan Kirana dan Aruna. Namun yang perlu diperhatikan
oleh orangtua, perangkat digital juga bisa mendatangkan dampak buruk jika
penggunaanya tidak proporsional.
Salah satu dampak buruk yang paling sering kita temui akibat
penggunaan gadget pada anak adalah kerusakan pada mata. Contohnya dua keponakan
saya Afif dan Fatih. Karena terlalu sering bermain gadget saat usia Sekolah
Dasar beberapa tahun yang lalu, mereka berdua akhirnya mengalami masalah pada
penglihatan. Dan terpaksa harus mengenakan kacamata di usia yang masih belia.
Contoh lainnya dari kalangan selebritis adalah Gempita Nora
Marten, putri dari Gisella Anastasia.
Emak – emak yang mengikuti berita terkini pasti tahu kalau
mata Gempita sudah terkena minus dan silinder, di usianya yang masih menginjak
4 tahun. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena terlalu sering mengakses
gadget. Hal ini pun diakui oleh Gisella sendiri dalam laman media sosialnya.
![]() |
Sumber : Instagram Gisella |
Pada anak usia dini yang sedang dalam masa perkembangan, penggunaan gadget berlebih juga bisa mendatangkan masalah lain yang dapat menghambat tumbuh kembangnya. Seperti keterlambatan bicara, sulit berkomunikasi dan bersosialisasi, hingga kecanduan yang membuat anak mudah marah dan meledak – ledak emosinya ketika tidak diberi gadget.
Bahaya banget kan?
Jadi tantangan bagi orangtua milenial adalah, bagaimana
mengenalkan teknologi pada anak – anak yang lahir di era digital ini, agar
mereka tidak gagap teknologi, namun juga tetap berkembang optimal sesuai tahap
usianya. Terlebih untuk anak usia dini yang sedang berada dalam periode emas
atau lima tahun pertamanya.
Periode emas pada anak disebut – sebut sebagai periode
paling penting dalam tahap kehidupan manusia. Karena pada masa ini otak sedang
bertumbuh dan berkembang dengan pesat, hingga 80%. Segala apa yang diterima dan
diproses oleh anak pada periode emasnya, akan berpengaruh pada masa dewasanya
nanti.
Oleh karena itu, orangtua milenial harus mengerti betul
kebutuhan anak – anak usia dini di era digital, agar tumbuh kembangnya tetap optimal,
di tengah – tengah gempuran teknologi yang terus berkembang dengan pesatnya.
![]() |
Mama dan Aruna |
Kebutuhan Anak Usia Dini
Dari beberapa kelas parenting yang pernah saya ikuti, dapat
saya tarik kesimpulan bahwa setidaknya ada beberapa hak yang harus diberikan
kepada anak usia dini agar mereka dapat bertumbuh kembang secara optimal. Yaitu
kasih sayang, gizi yang seimbang, pembelajaran dasar agama, serta stimulasi.
Kasih sayang dari keluarga dan orang – orang terdekat akan
membuat anak merasa terlindungi dan tumbuh besar dengan penuh rasa percaya
diri. Gizi yang cukup dan seimbang akan membuat anak tumbuh sehat dan kuat.
Pembelajaran dasar agama akan membentuk moral dan karakter anak.
![]() |
Gizi seimbang untuk anak agar mereka tumbuh sehat dan kuat |
Sedangkan stimulasi , berkaitan dengan perkembangan sel – sel otak anak yang akan mempengaruhi tingkat kecerdasan atau kematangan anak pada aspek perkembangan tertentu.
Aspek perkembangan ini meliputi
1.
Perkembangan fisik
2.
Perkembangan kognitif
3.
Perkembangan bahasa
4.
Perkembangan sosial emosional dan kemandirian
5.
Perkembangan seni
Pada periode emas, otak anak seperti spons. Menyerap apa
saja yang diterimanya, serta sangat peka terhadap berbagai rangsangan yang
diberikan. Sehingga ketika anak usia dini diberikan stimulasi yang tepat dan
kontinyu sesuai tahap usianya, maka sel – sel otak (neuron) yang secara default sudah terbentuk semenjak janin
namun belum saling terhubung, akhirnya bisa terkoneksi dan terhubung satu sama
lain.
Dengan kata lain, stimulasi pada anak usia dini akan membuat
anak semakin pintar, sekaligus mengasah potensi yang dimilikinya.
Menyadari pentingnya stimulasi pada anak usia dini, maka
sebisa mungkin saya berusaha memberikan stimulasi yang tepat untuk anak - anak
pada periode emas mereka.
Bicara keterkaitan manfaat perangkat digital untuk
perkembangan anak, saya sendiri merasa bahwa perangkat digital cukup membantu
saya dalam memberikan stimulasi pada anak. Lewat internet, saya bisa mengunduh berbagai
aplikasi seperti aplikasi pengenalan huruf, angka dan warna, pengenalan konsep
besar – kecil, tinggi – rendah, dan lain sebagainya dalam wujud permainan
edukatif. Dimana hal ini baik untuk perkembangan kognitif anak.
![]() |
Selain dengan media gadget, mengembangkan kognitif anak juga bisa dilakukan dengan permainan edukatif seperti ini |
Aneka video di Youtube yang menyajikan gerak dan lagu juga
sangat membantu saya dalam memberikan stimulasi seni pada anak.
Nah disinilah kebijakan orangtua diperlukan. Stimulasi gambar bergerak yang penuh warna dan
suara lewat teknologi digital ini memang memiliki daya tarik tersendiri. Sangat
mudah dicerna anak dan membuat mereka betah duduk berlama – lama. Sehingga
orangtua perlu menerapkan aturan agar penggunaan gadget ini bisa proporsional
dan tidak memberikan dampak buruk pada anak.
Setiap keluarga memiliki kebijakannya sendiri. Sedangkan
saya, untuk tahap usia Kirana dan Aruna yang masih tergolong usia dini, maka
aturan penggunaan gadget yang saya terapkan untuk mereka adalah sebagai berikut
:
1.
Kirana dan Aruna hanya boleh mengakses gadget
pada hari Sabtu dan Minggu.
2.
Kirana dan Aruna tidak dilepas mengakses gadget
sendiri, melainkan ditemani mama dan ayah.
3.
Batas maksimal mengakses gadget hanya 1 jam.
4. Jika Kirana dan Aruna minta bermain gadget lagi,
maka ada syarat yang harus dipenuhi. Misalnya membereskan mainan terlebih
dahulu.
Saya sendiri memiliki prinsip agar kenyamanan yang diterima
anak – anak lewat teknologi ini tidak menghambat aspek perkembangan lainnya.
Sehingga saya juga tak lupa menyelaraskannya dengan stimulasi yang lain.
Seperti, mengajak anak bermain sepeda dan ke playground untuk melatih motorik
kasar dan keseimbangannya.
![]() |
Mengajak anak bermain sepeda |
![]() |
Mengajak anak bermain ke playground |
Contoh lainnya dengan mengajak anak melakukan pekerjaan
rumah tangga bersama untuk melatih kemandirian. Meskipun terkadang ‘bantuan’
yang diberikan anak justru memperlambat kinerja kita, namun mengajak anak
berkegiatan bersama menurut saya cukup efektif untuk mengoptimalkan berbagai
aspek perkembangan lain yang harus dicapai anak usia dini.
Misalnya ketika mengajak anak memasak, ada beberapa
aktivitas yang dapat dilakukan seperti meletakkan, menuang, menjumput, mengaduk
yang bermanfaat untuk melatih motoriknya. Begitupun dengan kegiatan lainnya
seperti menyiram tanaman, menjemur pakaian, mencuci beras, menyalakan mesin
cuci, dan lain sebagainya.
![]() |
Aruna membuat telur dadar |
Untuk mengembangkan aspek sosial dan emosional anak, saya memberikan stimulasi lewat bermain peran, atau membacakan buku dengan tema – tema tertentu. Membacakan buku untuk anak tentunya juga bermanfaat untuk memperluas kosakata dan mengembangkan aspek bahasanya.
Namun dengan segala stimulasi yang sudah diberikan keluarga
dan kerabat terdekat pada anak usia dini, apakah semua itu sudah cukup untuk
perkembangannya?
Pentingnya PAUD di Era Digital
Dalam sistem pendidikan, kita mengenal jalur pendidikan dalam
format sekolah untuk anak – anak usia dini yang biasa disebut PAUD, pre school,
atau kelompok bermain. Namun seringkali orangtua merasa galau untuk
menyekolahkan anaknya ke PAUD dengan berbagai macam alasan. Padahal, PAUD
disusun dengan kurikullum yang memang dirancang untuk tumbuh kembang anak usia
dini.
PAUD adalah pendidikan paling dasar untuk anak. Pemberian
pendidikan usia dini yang berkualitas pada anak, akan meletakkan pondasi yang
kuat bagi tumbuh kembangnya. Yang berpengaruh pada pembentukan karakter dan
pengembangan potensinya.
Pendidikan usia dini sangat penting untuk anak mengingat
mereka adalah cikal bakal generasi penerus bangsa. Pentingnya keberadaan PAUD
ini juga sangat dipikirkan oleh pemerintah. Oleh karenanya, pada tahun 2019 ini
pemerintah sampai berkomitmen menganggarkan dana sebesar 4.47 triliun rupiah
untuk bantuan operasional penyelenggaraan PAUD.
Di era digital digital, anak – anak sudah terbiasa dengan
gadget. Daya tariknya membuat mereka betah berlama – lama di depan layar
gadget. Tak jarang ada yang sampai mencandu, dan marah ketika waktu bermain
gadgetnya disudahi.
Untuk mengalihkan anak usia dini dari dampak buruk gadget,
anak butuh kegiatan positif. Yang dapat merangsang tumbuh kembangnya serta
mengeksplorasi potensi yang ada pada dirinya. Dan PAUD adalah salah satu sarana
bagi anak untuk mengisi waktunya dengan hal positif tersebut.
Menurut saya, beberapa manfaat menyekolahkan anak di PAUD antara
lain :
1. Mengenalkan konsep sekolah
Anak yang sekolah di PAUD biasanya lebih
siap dan matang kala mengikuti pendidikan formal pada jenjang diatasnya. Mereka
cenderung tidak rewel dan lebih terkendali karena sudah terbiasa bersekolah
sebelumnya. Mereka juga lebih menerima aturan – aturan yang biasa diterapkan di
sekolah formal.
2. Mengenalkan rutinitas
Sekolah di PAUD akan mengajarkan anak usia
dini dengan rutinitas bangun pagi dan persiapan berangkat sekolah. Dimana hal
ini sangat baik untuk memupuk rasa disiplinnya sejak dini.
3. Melatih kemandirian
Saat di sekolah PAUD, anak tidak bergantung
pada orangtua seperti dirumah. Dan anak akan berlatih mennghadapi kesulitan –
kesulitan yang harus berusaha diatasinya. Misalnya jika ingin buang air kecil,
maka anak harus mengutarakan keinginan dan minta bantuan pada bu guru.
4. Melatih bersosialisasi
Di sekolah PAUD, anak – anak akan bertemu
dengan orang asing diluar keluarga dan orang terdekatnya. Mulai dari guru,
teman sekolah, pak satpam, dan lain – lain. Disinilah anak – anak belajar
bersosialisasi. Anak – anak yang tadinya jago kandang seperti Kirana, lambat
laun jadi lebih terbuka dengan selain keluarganya setelah bersekolah.
5. Melatih bertanggung jawab
Saat bersekolah anak – anak membawa barang
– barang pribadi seperti tas, sepatu, tempat bekal atau tempat minum. Dengan
demikian, anak – anak akan berlatih bertanggung jawab menjaga barang pribadinya
tersebut agar tidak tertukar, hilang, atau ketinggalan.
Namun tetap saja, perlu tidaknya anak disekolahkan di PAUD, itu semua dikembalikan kepada kebijakan orangtua dengan berbagai pertimbangan yang ada. Mulai dari kebutuhan anak itu sendiri, hingga biaya.
Namun tetap saja, perlu tidaknya anak disekolahkan di PAUD, itu semua dikembalikan kepada kebijakan orangtua dengan berbagai pertimbangan yang ada. Mulai dari kebutuhan anak itu sendiri, hingga biaya.
terbantu banget dengan adanya paud di dekat rumah. anak pertamaku paud setahun, tk setahun. anak keduaku paud cuma betah 6 bulan, trus tk 1 tahun. anak ketiga ga masuk paud tapi langsung tk 2 tahun krna umurnya sudah cukup matang :)
ReplyDeleteSekarang untungnya sudah banyak PAUD ya, jadi memudahkan orangtua..
DeleteDulu awal masukin anak ke paud itu ada pro kontra dai teman padahal tiap orangtua punya alasan masing-masing ya. Pendidikan usia dini itu penting baik di rumah maupun di paud
ReplyDeleteBenar mbak, tiap orangtua punya kebijakannya sendiri untuk anak..
DeleteAnakku yang bungsu, karena senang banget sama paudnya, saat TK, malah sering datang ke paud buat belajar. Nggak hanya TK, SD juga gitu, tiap sabtu datang ke paud buat main-main.
ReplyDeleteBerarti PAUDnya nyenengin dan ngangenin ya mak buat anaknya..
DeleteBener banget . PAUD penting banget untuk perkembangan anak2.. Alhamdulillah 2 anakku ikutan PAUD semua
ReplyDeleteAlhamdulillah ya mbak.. so far nyekolahin anak di PAUD hasilnya positif buat anak ya..
DeleteAnakku tak sekolah sejak umur 2,5 tahun karena pertimbangannya waktu itu dia sudah butuh sosialisasi. Apalagi dia demen banget main sensori, jadi aku ikutkan kelas seminggu 3x saja.
ReplyDeleteIya mbk, rata2 untuk usia segitu sekolahnya 3x seminggu juga sudah cukup..
DeleteSekolah di usia dini juga mengajarkan disiplin sedari kecil ya mbak, minimal disiplin bangun pagi dan mandi pagi jadi terbangun. Plus anak jadi nggak kuper yaa, karena PAUD bisa jadi tempat sosialisasi dengan teman seusianya.
ReplyDeleteYang paling kerasa sosialisasinya ya.. jadi punya banyak temen baru
DeleteDua anakku tak PAUD in semua mb. Iya, banyak banget kok manfaatnya..paling penting sosialisasi, karena di paud bakalan banyk ketemu tmn2 seumuran..
ReplyDeleteIya mbak, Kalo di kompleknya sepi anak seumuran ikutan PAUD jd punya banyak teman sebaya
DeletePendidikan anak usia dini memang penting banget. Krn itu akan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan mrk di masa depan.
ReplyDeleteThanks informasinya mbak
Sama2..semoga bermanfaat
DeleteAnak-anakku masuk paud karena sekolahnya menyenangkan, semi sekolah alam dan gurunya juga sayang sama anak-anak..
ReplyDeleteGuru sayang murid juga penting banget ya.. supaya anak2 betah dan nggak merasa diabaikan Di sekolah
DeleteSekarang banyak banget tetanggaku yang anaknya di masukkan ke PAUD. Selain dapet teman banyak, juga belajar banyak hal
ReplyDeleteIya mbak, sekolahin anak ke PAUD insyaAllah hasilnya positif..
DeleteTetangga aku pernah ada yang bilang kalau anaknya nggak disekolahin di PAUD karena katanya supaya nggak kelamaan di bangku skolah hehee
ReplyDeletePadahal selain anak disekolahkan PAUD itu karena alasan keputusan masing2 orangtua, manfaat lain yg didapat, anak jadi banyak belajar dengan teman-teman baru sebelum beranjak ke tingkat pendidikan di atasnya ya mbak
TFS yahh mbak
Kalau yg Aku lihat, anak2 yg sekolah PAUD lebih cepet beradaptasi ya pas masuk sekolah formal, karena udah terbiasa..
DeleteYakin seratus persen menyekolahkan anak2 ke PAUD krna bisa membangun interaksi sosialnya, di era digital ini anak2 gak boleh dibiarkan asyik bermain sendiri dengan gadgetnya
ReplyDeleteSebenarnya kuncinya di orangtua sih ya mbak..anak2 usia dini kn masih dalam kendali orangtua ya.. tinggal gimana cara orangtuanya mendidik itu. Anak2 kn cenderung anteng Kalo main gadget, jadi yg biasa terjadi, kalo anak udah anteng, orangtuanya bisa main gadget juga dah, hahah
DeleteSepakat, pendidikan di usia dini itu penting banget buat anak, banyak manfaatnya juga
ReplyDeleteIyaa, banyak manfaatnya ya nyekolahin anak ke PAUD
DeleteSaya setuju soal gadget mbak, ortu emang harus tegas dan membatasi ya kalau anaknya masih usia dini.
ReplyDeleteKalau soal PAUD, saya pribadi ikutan tim yang gak masukin anak ke PAUD, lbh memilih menguatkan bonding ma anak di rumah. Sedangkan interaksi dengan anak lain biasnaya suka saya ikutkan playdate sama anak2 homeschooling atau main sama anak2 tetangga di sekitar komplek aja.
Namun yaa kebutuhan tiap anak beda sih ya :D
Iya mbak, kebutuhan tiap anak beda dan pasti orangtuanya lebih tahu. Anak saya Karena type kinestetik jadi saya masukin ke semacam pre-school yg banyak aktivitas fisik dan motoriknya. Jauh dari rumah tpi ya gpp.. Kalo gk tersalurkan suka ngamuk2 soalnya, hehe
Deleteanakku lulusan PAUD mba, alhamdulillah bisa masuk SD Negeri yang percontohan dekat area rumah. Karena udah bisa membaca, berhitung, dan menulis
ReplyDeleteAlhamdulillah.. berarti bermanfaat buat anak ya mbak..
DeleteAnak ku aku masukin paud Sekaran usianya 4 THN 9 bulan..soalnya dia aktif..n rasa ungin tahu yang besar..
ReplyDeleteBuat anak yg serba ingin tahu, sekolah Di PAUD pasti banyak ketemu hal2 baru ya..
DeleteZaman era digital ini, menyekolahkan ke PAUD ini bisa disebut sebagai kewajivaa buatku, karena anak memang harus berkembang sesuai usianya. Anak butuh tempat baru dalam menstimulasi perkembangannya, salah satunya dengan sekolah di PAUD.
ReplyDeleteIya.. di PAUD anak biasanya dapat stimulasi yang yaang sesuai untuk tahapan usianya..
DeleteUsia emas itu memang gak akan terulang ya mbak. Jadi kejar banget pendidikan usia dini dengan aneka stimulasi yang efeknya jadi ilmu dasar untuk anak anak. Mupeng euy lihat paudnya
ReplyDeleteIya mbak, Keren ya.. banyak aktivitas buat anak, kurikullum ya juga lengkap..
DeleteAnakku yang kelas 4 SD aja hanya kuberikan jatah akses gadget hari Sabtu dan Minggu saja. Itupun udah meresahkan karena matanya jadi lekas berkedip-kedip. Pernah ya sampai 2 minggu ga kukasih main gadget, duuuh udah kayak orang sakau deh. Udah salah deh ini kayaknya. Pelan-pelan kualihkan ke aktivitas baca, tapi belum begitu berhasil.
ReplyDeleteSemangat mbak. Saya juga berusaha ngejaga anak2 gk sering ngakses gadget supaya gk pakai kacamata kaya mamanya. Emang ortu harus tegas sih dalam hal ini..jgan sampai kita yg diatur anak..
DeleteAku juga bakalan masukin PAUD karena tujuan sosialisasi sih mba karena lingkungan rumah ga support untuk perkembangan sosialisasi dan relationship anak-anak..
ReplyDeleteAnakku sempat nggak betah di PAUD lingkungan rumah. Alasannya sih karena terlalu ramai dan panas. Tapi sebenarnya aku paham dia kurang nyaman dengan model belajarnya. Akhirnya aku masukin ke PAUD yang model belajarnya activity. ALhamdulillah betah sampai sekarang sudah TK. Memang sih, PAUD ini bisa jadi penting tapi bisa juga enggak, teragntung kebutuhan masing-masing. Kalau aku jujur merasa penting, karena anakku nggak punya temab sepantaran di rumah.
ReplyDeleteDi satu sisi, gadget memang baik. Tapi gak boleh dipakai terus-terusan ya. Harus seimbang dengan kegiatan fisik juga.
ReplyDelete