Skip to main content

8 Alasan Menyekolahkan Anakku di Sekolah Islam Terpadu (SIT)

alasan masuk sekolah islam terpadu

Sabtu lalu, Kirana menjalani observasi masuk tes SD di sebuah Sekolah Islam Terpadu (SIT). Sejak Kirana masih belum lancar ngomong, mama dan ayah juga sebenarnya sudah ingin nanti Kirana masuk sekolah di SD ini . Alasan inilah yang mendasari mama menyekolahkan Kirana di TK yang sama, supaya masuk SDnya lebih mudah. Karena pengalaman yang sudah – sudah, alumni sekolah yayasan biasanya memang lebih diprioritaskan dan sudah bisa dipastikan lulus jika ingin melanjutkan ke jenjang SD.

Ternyata peminat di sekolah ini lumayan tinggi juga. Dari 84 calon siswa yang mendaftar, nantinya hanya akan diambil 48 siswa saja. Jadi mama dan ayah sangat bersyukur sudah memasukkan Kirana di TK dengan yayasan yang sama. Biarpun biaya uang pangkal dan bulanannya lumayan mihil, tapi sebanding dengan perkembangan Kirana sejauh ini. Lagipula pendidikan adalah investasi untuk anak, jadi   mama dan ayah berusaha memfasilitasi dengan sebaik – baiknya.

Sebenarnya, keputusan untuk akhirnya menyekolahkan Kirana di SIT ini sudah melewati perdebatan dan survey yang panjang dari sekolah – ke sekolah. Ketika akhirnya memutuskan, tentunya disertai dengan beberapa alasan, antara lain

Rasio guru dan murid kecil

Dulu mama sangat mengkhawatirkan Kirana karena ia anaknya pemalu dan nempel mama banget, susah beradaptasi, dan susah berkomunikasi sama orang yang belum dikenal. Mama sering parno sendiri kalau Kirana bakal jadi korban buly karena sifatnya ini. SIT biasanya memiliki rasio guru : murid yang kecil. Seperti saat ini, di TK B kelas Kirana jumlah muridnya ada 14 orang diasuh oleh 3 guru. Sedangkan untuk SD nanti, 1 kelas terdiri dari 24 anak dan diasuh oleh 3 guru. Dengan demikian fokus guru tidak terpecah ke banyak murid. Apalagi usia TK – SD adalah masa - masa anak belajar mandiri sehingga mereka masih butuh banyak diingatkan, butuh banyak bimbingan juga pengarahan. Dengan perbandingan jumlah guru dan murid yang proporsional, mama jadi lebih nyaman meninggalkan Kirana di sekolah, tanpa khawatir ia akan terabaikan selama di sekolah.

Kedua, guru - guru yang ramah dan perhatian. 

Untuk di sekolah TK Kirana sendiri, mama melihat bahwa guru - guru di sekolahnya selalu berusaha membangun energi positif di sekolah. Mereka selalu murah senyum dan ramah pada anak didik. Lingkungan sekolah dengan guru - guru seperti inilah yang dibutuhkan oleh Kirana untuk membangun kepercayaan dirinya, dimana Kirana ini typikal anak yang pemalu dan sangat sulit berinteraksi dengan orang  diluar keluarganya, terutama dengan orang dewasa. Guru – guru di SIT juga umumnya perhatian, dan mengajak anak untuk lebih membuka diri dengan membangun komunikasi.

Ketiga, metode pendidikan yang antimainstream

Mama cukup surprise ketika sekolah TK Kirana mengusung Metode Montessori dalam kegiatan belajar mengajarnya. Karena kebetulan mama sendiri memang sangat tertarik dengan metode Montessori ini sejak pertama kali mengetahuinya lewat internet. Metode Montessori memiliki konsep dasar "follow the child", sehingga dipercaya dapat membantu setiap anak untuk mengetahui dan meraih potensinya masing - masing lewat 5 area Montessori. Metode Montessori ini juga menekankan anak untuk melatih kebiasaan sehari - hari agar anak lebih mandiri. Misal, membuang sampah pada tempatnya, merapikan kembali area kerja, meletakkan tas dan sepatu pada tempatnya, dan lain - lain.
Sedangkan untuk SD memang mama masih belum terlalu paham. Tapi setahu mama disana tidak ada sistem ranking dan menggunakan tema – tema tertentu untuk sistem belajarnya. Misalnya bulan ini temanya tentang pekerjaan, jadi tema pekerjaan itu dimasukkan dalam pelajaran matematika, ipa, dan lain – lain.

Keempat, kegiatan belajar yang beragam. 

Kegiatan belajar mengajar di SIT, khususnya SIT tempat Kirana menimba ilmu tidak hanya terbatas di dalam ruangan saja. Banyak sekali kegiatan - kegiatan seru diluar ruangan yang diberikan pada anak didik, seperti berenang, rihlah, mabit, menanam pohon, bahkan trade day atau kegiatan jual beli. Kegiatan - kegiatan semacam ini tentunya akan semakin memaksimalkan potensi dan perkembangan anak.

Kelima, pembelajaran Islam dan Alquran yang terintegrasi dalam kegiatan belajar. 

Bagaimanapun juga ini adalah alasan utama mama dan ayah menyekolahkan Kirana di SIT. Di SIT pendidikan agama Islam yang diberikan lebih mendalam dan intens. Hal yang sepertinya kurang mampu diberikan oleh ayah dan mamah untuk anak – anak. Dan di sekolah Kirana bisa mama katakan bahwa sistem pendidikannya dibundling dengan paket pendidikan Alquran di dalamnya. Karena selain melatih hafalan Alquran, hadits dan ayat pilihan , SIT tempat Kirana bersekolah juga mengajar anak - anak mengaji dengan metode Ummi. 

Keenam,  menekankan pada pendidikan karakter 

Salah satu keunggulan dari SIT adalah umumnya mereka lebih menekankan pendidikan karakter anak yang diaplikasikan dalam pembiasan hidup sehari – hari. Kalau di SIT Kirana, salah satu muatan pendidikan karakternya dilakukan melalui implementasi program The Leader in Me. Program ini merupakan internalisasi dari 7 Habbits atau & kebiasaan baik yang terintegrasi dalam program sekolah. Harapannya, 7 Habbits ini juga dimplementasikan di rumah   sehingga orangtua   mau tidak mau juga harus paham. 

Ketujuh, SIT mendorong sinergi dengan keluarga. 

Sinergi ini diwujudkan dalam bentuk penyelenggaraan parent class yang rutin dilakukan setiap bulan, juga pengadaan FOS (Forum Orangtua Siswa) yang merupakan wadah bagi para orangtua siswa dalam berkegiatan ataupun menyalurkan aspirasinya. Selain itu sinergi ini juga mendorong keluarga untuk melanjutkan kebiasaan baik yang diajarkan di sekolah dalam lingkungan rumah. Misalnya, mengajak anak sholat, membiasakan mengaji ummi setiap hari, mengimplementasikan 7 habbits, dan lain – lain. Hal – hal yang terlihat mudah tapi sesungguhnya lumayan berat juga. Namanya juga pembiasaan, jadinya orangtua juga harus disiplin. Dan mama kadang merasa ngos – ngosan untuk hal ini, heuheu.

Kedelapan, konsep Go Green

Tidak semua SIT menerapkan konsep Go Green. Tapi Kirana beruntung karena sekolahnya menerapkan konsep Go Green ini agar anak – anak bisa lebih dekat dan menghargai alam. Dari segi bangunan sekolah sendiri banyak pohon, ruang terbuka, juga ada kebun sayuran. Ada kelas dalam bentuk saung. Lalu sekolah Kirana juga mendukung zero plastic sehingga anak – anak ditekankan membawa makanan dengan tempat bekal. Begitupun dengan minuman. Saat acara pemaparan visi misi sekolah kemarin juga cukup menarik, karena orangtua diwajibkan membawa kotak bekal sebagai tempat untuk membawa konsumsi yang disediakan oleh pihak sekolah.

***
Beberapa pihak terkadang memberi stigma negative terhadap SIT, mama sendiri pun mengamini bahwa mencari SIT yang sesuai di hati juga gampang – gampang susah. Jadi ketika orangtua memang benar – benar ingin menyekolahkan anaknya di SIT, pelajarilah dengan baik – baik sekolahnya. Sepak terjang yayasan yang menaunginya, visi – misi sekolahnya, metode pembelajaran yang diajarkan, dan yang paling penting testimoni alumni. Karena setelah menyekolahkan anak bukan berarti orangtua lepas tangan begitu saja menyerahkan urusan pendidikan pada sekolah. Justru sebaliknya, orantua juga turut berlajar dan mendampingi proses pendidikan anak.

Kalau yang mama rasakan, biaya sekolah yang awalnya terasa mihil jadi terasa wajar karena banyaknya pembelajaran yang diterima, bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk mama dan ayah sendiri. Gara – gara Kirana sekolah di SIT, mau tidak mau mama juga harus mengikuti pelajaran yang diikuti Kirana. Misalnya karena Kirana belajar menghafal hadits dan Alquran, ya mama jadi sedikit belajar menghafal juga.

Kadang – kadang Kirana juga yang mengajarkan kebiasaan baik itu pada mama. Misalnya, mau tidur harus berdoa dulu. Atau kalau minum itu jangan sambil berdiri. Masya Allah.

Alhamdulillah, mama merasa bersyukur menyekolahkan Kirana di SIT. Karena banyak sekali perkembangan positif yang ditunjukkan oleh Kirana setelah bersekolah di SIT. InsyaAllah Aruna juga nanti disekolahkan di SIT yang sama.

Just my two cents ^^.


  

Comments

Popular posts from this blog

Maksimalkan Cantik Alamimu dengan Perawatan Tubuh Praktis ala Velvy Beauty

Punya suami yang tak romantis itu seringkali membuat diri ini gigit jari. Bayangkan saja, selama 7 bulan pacaran hingga 7 tahun menikah, tak pernah sekalipun ia memberi bunga atau puisi yang sering diharap - harap sang istri.                                         Padahal istrinya ini ingin sekali merasakan berbunga - bunganya hati ketika diberi sekuntum mawar. Setidaknya, setahun sekali lah, pada saat ulang tahun atau wedding anniversary. Meski sudah diberi kode keras, namun tak pernah sekalipun ia mengabulkannya. Sebagai ganti, ia selalu membawa cake ulang tahun untuk dikunyah bersama. Oh my god . Suami saya ini selalu punya pembelaan sendiri kenapa tak pernah mau memberikan bunga untuk istrinya. Katanya, kalau bunga adalah lambang cinta, maka bunga itu pasti layu dan berguguran. Sementara cintanya pada sang istri akan selalu abadi dan berkembang. sumber : tenor.c...

Peduli Kesehatan Diri dan Keluarga, Jadi Smart Milenial Bersama Sequis Life

Bagi yang sudah merasakan manfaatnya, asuransi kesehatan saat ini sudah menjadi kebutuhan yang sama pentingnya seperti kebutuhan sandang, pangan dan papan. Terutama bagi mereka yang memiliki riwayat atau resiko kesehatan atas penyakit tertentu. Namun pemahaman akan pentingnya asuransi kesehatan ini sepertinya belum menyentuh semua lapisan masyarakat. Termasuk generasi milenial yang katanya melek informasi dan adaptif terhadap teknologi. Padahal asuransi kesehatan memiliki peranan lain, selain melindungi diri dari ancaman kesehatan yang mengintai. Apa saja? Dan, asuransi kesehatan seperti apa yang bisa dijadikan pilihan kaum milenial? Sumber gambar : Pixabay.com Milenial dan Asuransi Kesehatan Menurut Wikipedia, milienial adalah generasi yang lahir antara tahun 1980 – 2000. Jika dihubungkan ke masa sekarang, ternyata generasi milenial ini sebagian besar sedang memasuki masa usia produktifnya. Dan sebagian lagi sedang berancang – ancang memasuki usia produktif. Pada u...

Hidup Penuh Warna Ibu Rumah Tangga, Semakin Ceria dengan ASUS VivoBook Ultra A412DA

Kelihatannya tak bekerja. Tapi setiap hari menjadi chef untuk menjamin isi perut setiap anggota keluarga. Menjadi tukang ojek untuk mengantar jemput anak sekolah. Atau menjadi guru ketika membimbing anak belajar.   Begitulah aneka rangkap profesi yang saya lakoni dalam menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga. Ditambah dengan tingkah duo krucil yang terkadang membuat pusing kepala, hidup saya benar – benar penuh warna.  Yang saya tahu, deretan warna itu terbentang lebar dari kode #000000 hingga #ffffff. Artinya tak hanya warna cerah ceria saja yang tercatat disana. Ada juga warna – warna kelabu, sepekat mendung yang merayu. Dan begitulah keseharian saya dalam menjalankan aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Tak selalu penuh sukacita, tapi ada juga pahit – pahitnya.  Tentunya bukan hanya saya saja yang merasa demikian. Mau itu ibu bekerja atau ibu rumah tangga, saya yakin keseharian ibu – ibu lainnya juga penuh warna, dinamis, serta tak jauh m...