Skip to main content

Merawat Mata Minus

Merawat mata minus hukumnya wajib bagi penderita rabun jauh sepertiku. Kalau tidak ya bisa - bisa minus mata terus bertambah. Lalu apa yang harus dilakukan supaya minus mata tidak terus bertambah?\

sumber : merdeka.com


Ketika mata mulai minus


Waktu duduk di bangku kelas 1 SMP dulu, aku mulai menyadari bahwa ada yang salah dengan penglihatanku. Apalagi kalau melihat dari jarak jauh, rasa - rasanya objek yang aku lihat jadi berbayang.

Karena kurang jelas melihat, akibatnya setiap nonton televisi, yang awalnya duduk di sofa otomatis  langsung maju ke depan yang biasanya langsung disamber teriakan ibu "Mundur mundur.. takpateni ngko tivine.".

Kalau baca komik atau baca buku juga jadi deket - deket supaya kelihatan jelas.

Di kelas juga begitu. Paling mengganggu ya waktu menyalin catatan dari papan tulis. Padahal duduknya juga sudah di depan, tapi kepala tetap mesti dimaju - majuin, mata juga kudu  disipit - sipitin dulu supaya tulisannya bisa terbaca.

"Kowe ngopo Di?", tanya Maul teman sebangkuku.

"Tulisane kawur.", jawabku.

"Mripatmu jereng ya'e.", balasnya.

Sepertinya benar juga kata temanku itu, karena dia bisa melihat tulisan di papan tulis dengan jelas. Sementara aku tidak.

Setelah mengkonsultasikan hal ini le orangtua, akhirnya mereka membawaku ke dokter mata. Dan benar saudara - saudara, ternyata mataku minus 1. Huhuhu.

Oleh bu dokter diresepin obat minum dan obat tetes mata. Untuk obatnya kalau nggak salah semacam vitamin buat mata minus. Obat tetesnya kurang paham juga waktu itu buat apa ya.. pokoknya ditetes ke mata sehari 3 kali. Dan yang menyebalkan, mulai saat itu aku harus pakai kacamata. Huhuhu. Sepulang dari periksa dokter, orangtuaku langsung mengajak ke optik untuk beli kacamata.

Rasanya weird sangat ketika di kelas hanya aku yang pakai kacamata, begitupun dirumah. Tapi lama kelamaan akhirnya ya biasa saja.

Masalahnya adalah, meskipun sudah memakai kacamata, setiap tahun minusku tetap saja bertambah. Dari yang awalnya minus 1 hingga sekarang akhirnya jadi minus 4. Dikit - dikit, lama - lama menjadi bukit ya. Huhuhu. Sebagai informasi, ukuran mata minus disebut dengan Dioptri (D). Sedangkan tingkat keparahan penderita miopia/rabun jauh dibagi menjadi 3 :

- Miopia rendah (0.5D - 3D)
- Miopia sedang (3D - 6D)
- Miopia berat (> 6D)
See? Jadi mulanya aku berada di level miopia rendah, tapi karena kurang aware dan kurang merawat mata minus ku dengan baik akhirnya sekarang pindah level ke miopia sedang. Huhuhu.

Setelah memahami bahwa trend mata minus ku selalu bertambah tiap tahun, akhirnya aku mulai aware dengan kesehatan mataku dan berusaha supaya minimal minusnya tetap di 4D. Syukur - syukur kalau berkurang atau malah sembuh. Aamiin.

Menyembuhkan mata minus ini sebenarnya masih misteri banget buat aku. Kalau searching - searching di google sih katanya ada yang berhasil nyembuhin mata minusnya, tapi katanya hanya bisa diterapkan untuk penderita miopia rendah. Tapi secara logika kalau bisa sembuh berarti bermula dari minus mata yang berkurang dong. Berarti yang punya minus sedang sepertiku punya kemungkinan untuk menurunkan mata minus juga kan? *Ngarep banget*.

Sebenarnya kepingin juga sih challenge diri sendiri untuk mengurangi minus mata secara alami. Tapi, selayaknya orang diet, pastinya hal seperti ini butuh niat, konsistensi dan ketelatenan yang tinggi. Kalau sekarang ya merawat mata minus dulu supaya nggak nambah - nambah terus minusnya.

Merawat mata minus


Kurang lebih sudah 10 tahun ini minus mataku tetap ajeg di 4D. Yeayyy. Tapi ada yang bilang pertambahan minus itu sebenarnya seiring dengan pertumbuhan badan. Karena ukuran bola mata kita juga berubah, begitu pun dengan fokusnya. Jadi ketika pertumbuhan badan kita sudah mentok yang biasanya diukur dari tinggi badan yang sudah tidak naik lagi, minus mata juga ikut mandeg. Hhmmm.

However lah. Meskipun sudah mencapai usia dewasa, kalau tidak dijaga ya probabilitas minus mata bertambah tetap mungkin saja terjadi menurutku.

Kalau yang aku lakukan untuk merawat mata minusku kurang lebih begini ya.

Berusaha mengurangi ketergantungan pada kacamata.
Salah satu hal yang menjadi kebiasaan buruk pada pengguna kacamata (termasuk aku) adalah selalu memakai kacamata dimanapun dan kapanpun kecuali di saat mereka tidur. Tahu nggak apa salah satu akibatnya? Lama - lama akan timbul kantong mata yang membuat wajah kita jadi terlihat lebih tua dan tidak segar. Yang pakai kacamata mana suaranyaa 😁😁😁.
Ketika aku memulai program lepas kacamata saat dirumah, si sulung Kirana langsung melayangkan protesnya, "Mamah jelek ah kalau nggak pakai kacamata, serem. lebih cantik kalau pakai kacamata.", katanya sambil merengut.

Tujuan lepas kacamata saat dirumah ini agar mata lebih rileks dan tidak dimanjakan dengan kemudahan melihat dengan bantuan lensa. Selain itu juga untuk mengurangi lingkaran hitam di bawah mata yang kemunkinan timbul karena pembiasan cahaya dari lensa yang terjadi terus menerus.

Memang sih pandangan jadi kabur dan kagok banget liat apapun jadi burem. Tapi lama - lama juga biasa. Dan aku membuktikan sendiri, setelah lepas kacamata dirumah, selang beberapa bulan lingkaran hitam di bawah mata jadi berkurang.

Olahraga mata
Bukan hanya badan, mata juga butuh olahraga untuk menjaga fungsi mekanis dan optik mata. Apalagi buat penderita rabun jauh, olahraga mata ini penting banget buat dilakukan supaya mata tetap sehat dan gak nambah minusnya. Setidaknya lakukan olahraga mata sehari  sekali. Olahraga mata yang aku lakukan diawali dengan badan yang tegak, boleh duduk boleh berdiri, tapi enakan duduk lah. Yang penting kepala lurus nggak perlu ikut nengok - nengok. Cukup bola matanya saja yang gerak dan lirak lirik.
1. Lirikkan bola mata ke arah kanan sejauh mungkin, tahan 3 hitungan lalu balas lirik ke kiri (5x).
2. Lirikkan bola mata ke arah atas sejauh mungkin, tahan 3 hitungan lalu balas lirik ke bawah (5x).
3. Lirikkan bola mata ke arah sudut kanan atas sejauh mungkin, tahan 3 hitungan, lalu balas lirik ke sudut kiri bawah (5x).
4. Lirikkan bola mata ke arah sudut kiri atas sejauh mungkin, tahan 3 hitungan, lalu balas lirik ke sudut kanan bawah (5x).
5. Putar bola mata searah jarum jam sejauh mungkin (5x).
6. Putar bola mata berlawanan arah jarum jam sejauh mungkin (5x).
7. Rentangkan kanan ke depan dengan posisi ibu jari sejajar dengan mata. Lihat ibu jari, tahan 3 detik, lihat lurus ke depan, tahan 3 detik, lihat ibu jari lagi (5x).
8. Gosok - gosokkan kedua tangan hingga panas (lebih enak pakai baby oil), tempelkan ke mata yang terpejam sampai hilang rasa panasnya (5x).

Jangan terlalu lama di depan layar laptop atau smartphone
Kenapa generasi milenial banyak yang memakai kacamata? Karena kebanyakan dari mereka selalu terpaku pada layar laptop atau smartphone. Seperti aku 😁. Ya begitulah, jaman digital membawa kita ke era dimana segala hal bisa dilakukan lewat smartphone atau laptop. Tapi jangan lupa perhatikan kesehatan matamu juga. Apalagi pekerja kantoran yang dituntut bekerja di depan laptop 8 jam sehari.
Cara terbaik merawat kesehatan minus dari pengaruh perangkat digital adalah mengistirahatkan mata setiap 30 menit. Tidak perlu sampai olahraga mata. Tapi cukup merem atau melihat objek jauh selema beberapa menit saja supaya matamu tidak tegang dan cepat lelah.

***

Just my two cent, semoga bermanfaat ya ^^V.

Comments

Popular posts from this blog

Maksimalkan Cantik Alamimu dengan Perawatan Tubuh Praktis ala Velvy Beauty

Punya suami yang tak romantis itu seringkali membuat diri ini gigit jari. Bayangkan saja, selama 7 bulan pacaran hingga 7 tahun menikah, tak pernah sekalipun ia memberi bunga atau puisi yang sering diharap - harap sang istri.                                         Padahal istrinya ini ingin sekali merasakan berbunga - bunganya hati ketika diberi sekuntum mawar. Setidaknya, setahun sekali lah, pada saat ulang tahun atau wedding anniversary. Meski sudah diberi kode keras, namun tak pernah sekalipun ia mengabulkannya. Sebagai ganti, ia selalu membawa cake ulang tahun untuk dikunyah bersama. Oh my god . Suami saya ini selalu punya pembelaan sendiri kenapa tak pernah mau memberikan bunga untuk istrinya. Katanya, kalau bunga adalah lambang cinta, maka bunga itu pasti layu dan berguguran. Sementara cintanya pada sang istri akan selalu abadi dan berkembang. sumber : tenor.c...

Peduli Kesehatan Diri dan Keluarga, Jadi Smart Milenial Bersama Sequis Life

Bagi yang sudah merasakan manfaatnya, asuransi kesehatan saat ini sudah menjadi kebutuhan yang sama pentingnya seperti kebutuhan sandang, pangan dan papan. Terutama bagi mereka yang memiliki riwayat atau resiko kesehatan atas penyakit tertentu. Namun pemahaman akan pentingnya asuransi kesehatan ini sepertinya belum menyentuh semua lapisan masyarakat. Termasuk generasi milenial yang katanya melek informasi dan adaptif terhadap teknologi. Padahal asuransi kesehatan memiliki peranan lain, selain melindungi diri dari ancaman kesehatan yang mengintai. Apa saja? Dan, asuransi kesehatan seperti apa yang bisa dijadikan pilihan kaum milenial? Sumber gambar : Pixabay.com Milenial dan Asuransi Kesehatan Menurut Wikipedia, milienial adalah generasi yang lahir antara tahun 1980 – 2000. Jika dihubungkan ke masa sekarang, ternyata generasi milenial ini sebagian besar sedang memasuki masa usia produktifnya. Dan sebagian lagi sedang berancang – ancang memasuki usia produktif. Pada u...

Hidup Penuh Warna Ibu Rumah Tangga, Semakin Ceria dengan ASUS VivoBook Ultra A412DA

Kelihatannya tak bekerja. Tapi setiap hari menjadi chef untuk menjamin isi perut setiap anggota keluarga. Menjadi tukang ojek untuk mengantar jemput anak sekolah. Atau menjadi guru ketika membimbing anak belajar.   Begitulah aneka rangkap profesi yang saya lakoni dalam menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga. Ditambah dengan tingkah duo krucil yang terkadang membuat pusing kepala, hidup saya benar – benar penuh warna.  Yang saya tahu, deretan warna itu terbentang lebar dari kode #000000 hingga #ffffff. Artinya tak hanya warna cerah ceria saja yang tercatat disana. Ada juga warna – warna kelabu, sepekat mendung yang merayu. Dan begitulah keseharian saya dalam menjalankan aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Tak selalu penuh sukacita, tapi ada juga pahit – pahitnya.  Tentunya bukan hanya saya saja yang merasa demikian. Mau itu ibu bekerja atau ibu rumah tangga, saya yakin keseharian ibu – ibu lainnya juga penuh warna, dinamis, serta tak jauh m...