Skip to main content

Ungaran dan Nostalgia Kuliner Jalan Asmara

23 tahun lalu, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota Ungaran. Waktu itu malam hari, kira - kira lepas Isya. Saya, ibu dan adik tiba di pasar Ungaran disambut oleh ayah yang tampaknya sudah lama menunggu. Ayah dan ibu memang sedang LDR pada saat itu. Ayah kerja di Semarang, sedangkan ibu bekerja sebagai PNS di Tegal. Berhubung SK pindah ibu sudah keluar, akhirnya kami bertiga pun boyongan pindah ke Ungaran.

Ayah dengan sigap membantu membawakan barang - barang, menuntun kami ke pangkalan dokar dan membimbing kami naik dokar satu persatu. Itulah pertama kalinya saya naik dokar, menyusuri jalan Asmara, menuju rumah kontrakan di perumahan Sebantengan. Yang benar jalan Ahmad Yani. Tapi orang  sini lebih mengenalnya dengan jalan Asmara. Entah kenapa saya sendiri  juga kurang paham asal muasalnya. Cuaca malam itu cukup dingin, kanan kiri gelap gulita, lampu penerang jalan juga rasanya minim sekali. Sangat sepi, hanya suara sepatu kuda yang beradu dan gemerisik daun saja yang terdengar di telinga. Walau begitu, entah kenapa terasa tenang dan syahdu. Begitulah kesan pertama saya terhadap kota ini, tenang dan syahdu.

Libur lebaran kemarin, saya kembali menyusuri sepanjang jalan Asmara. Dari ujung perempatan Kantor Bupati, hingga ke pasar Ungaran. Kali ini tentu saja bersama suami. Hal ini sebenarnya sudah jadi ritual kami tiap malam kalau sedang pulang kampung. Berbeda dengan puluhan tahun lalu, jalan Asmara kini seperti pusat kota baru. Tidak lagi sepi dan gelap. Kepala saya tak henti - hentinya menoleh ke kanan ke kiri, ke kanan dan ke kiri lagi. Kebingungan harus dimana menghentikan laju kendaraan roda dua kami. Ruko - ruko, resto mini, aneka warung dan jajanan kaki Lima membentang di kanan kiri jalan. Setiba di pasar kebingungan pun berlanjut dengan banyaknya penjual jajanan dan pedagang kaki lima yang bertebaran. Sedikit bernostalgia, dulu sepulang sekolah semenjak SD hingga SMA, pasar Ungaran adalah tempat yang saya jelajahi dulu sebelum berjalan kaki melanjutkan perjalanan ke rumah yang sudah pindah di daerah Kuncen Baru. Entah untuk beli gorengan, es degan, es dawet, bakso, tahu campur, kacang godok, atau mampir ke toko buku Ananda untuk membeli alat tulis. Wajah pasar Ungaran tidak banyak berbeda dengan yang saya ingat dulu, tapi terlihat ada sedikit pemugaran disana sini. Entah bagaimana wajahnya sekarang setelah beberapa bulan. Akhirnya saya dan suami pun berhenti di beberapa tempat, menjejali motor kami dengan beraneka kresek yang berisi gorengan, tahu campur, martabak, keripik singkong, kacang godok, yang kemudian membuat kami megap - megap kala menghabiskannya.

Iya. Makanannya! Kulinernya! Itulah yang membuat saya selalu ingin kembali ke Ungaran. 1 minggu pulang kampung rasanya tidak cukup untuk memenuhi hasrat kuliner disini. Makanan disini murah - murah dan enak. Sayurannya murah dan segar. Tahunya enak dan tidak langu. Saya dan suami suka berandai - andai untuk segera hijrah kemari, tak perlu nunggu pensiun. Tapi yah, memang sepertinya kami hanya bisa berkunjung sesekali waktu dalam setahun, karena jalan  hiduplah yang mengharuskan kami untuk tinggal di ibukota.

Ada beberapa spot yang selalu dan tidak pernah absen saya kunjungi setiap pulang kampung. Letaknya dimana lagi kalau bukan Di jalan Asmara atau pasar Ungaran. Makanan disini dijamin gak bikin kantong jebol, semuanya murah - murah di kisaran 10k - 15k. Semoga bisa menambah wawasan jika ingin kuliner ke Kota Ungaran ya.

Tahu campur Pak Karmin

Tahu campur Ungaran. Makanan favorit semenjak pindah ke Ungaran hingga beranak dua. Isinya kacang yang diulek kasar dengan bawang putih dan cabe rawit, bakwan, tempe, tahu, lontong, irisan kol dan toge, diguyur kuah warna coklat yang entah terbuat dari apa dan bikin saya penasaran sampai sekarang. Rasanya seger mantap. Dulu punya langganan tahu campur yang sering lewat depan rumah, namanya Pak Royo. Tahu campur terenak sepanjang hayat. Bakwannya royal, besar dan garing. Kuahnya pun mantap. Berhubung bapak ini tetiba menghilang tanpa jejak, mau tidak mau saya pun mencari pelabuhan yang lain. Tahu campur Pak Karmin, tidak semantap Pak Royo, tapi lumayan. Letaknya Di pasar Ungaran.

Tahu gimbal Bu Enny

Tahu gimbal, makanan khas Semarang yang mulai menjajah Ungaran. Ulekan bumbu kacang yang halus lembut dengan citarasa manis, dicampur gimbal udang, tahu, lontong, irisan kol toge dan telor goreng. Ini enak banget. Buka siang hari di depan Kantor Bupati. Kalo sore jangan berharap kebagian ya. Saya pernah 2 kali kehabisan karena datang kesorean, padahal air liur sudah netes - netes ngidam tahu gimbal ini.

Tahu telor Kudus

Warung kaki lima Tahu telor Kudus ini biasanya buka sore hari, di trotoar sebelah kanan Kantor Bupati. Tapi seringnya tutup. Komposisi isi dan rasanya sebenarnya 11 12 dengan tahu gimbal. Bedanya, tahu telor kudus ini tekstur bumbu kacangnya lebih kasar.

Soto Ayam Pak No

Soto Ayam khas Semarang dengan kuah bening yang seger banget. Semangkuk kecil cuma ditebus dengan Rp. 6000,- saja. Tapi tetap kenyang karena ditemani aneka sate, perkedel, tempe goreng, krupuk. Suami saya kalo diajak kesini selalu nambah - nambah sampai kekenyangan. Pokoknya puas dan murah.

Pecel Kediri

Sebenarnya ada 1 warung pecel lagi Yang bersebelahan dengan pecel kediri ini. Namanya Pecel bu Sumo, warungnya laris makanannya pun enak. Tapi lidah saya lebih cocok Di pecel Kediri, menurut saya rasanya lebih mlekoh. Yang selalu saya cari disini adalah sambel tumpangnya. Pedes mantep enak banget pokoke maknyus.

Mie goreng Lek Bero

Ini juga warung Mie goreng favorit. Selalu rame dan antri. Biarpun rasanya tidak stabil karena kokinya tidak selalu sama, overall selalu enak. Sekali waktu pernah pesan Mie goreng disini dan rasanya bikin saya bilang WOW, karena mengingatkan dengan mie goreng rasa ayam ala mall yang seporsinya seharga 30K. Enak banget, terasa banget rasa gurih minyak ayam yang membalur mienya. Tapi lain waktu pesan lagi ya rasanya enak aja gak pake banget.

Warung Suroboyo

Pecinta makanan jawa Timur wajib kesini karena disini ada rujak cingur, tahu tek, tahu campur Suroboyo, dkk. Semuanya dibikin dadakan, diulek langsung sama yang punya warung. Saya pernah agak jengkel harus menunggu lama demi seporsi tahu tek. Tapi ketika sepiring tahu tek itu mendarat di hadapan saya, jengkelnya mendadak hilang. Bumbu kacangnya legit banget dengan tambahan petis di dalamnya. Walaupun terbilang agak mahal, karena seporsinya 15K, tapi memang rasanya mantap, gak bikin kapok dan bikin ingin kembali lagi.

Gorengan Handayani

Cemilan wajib kalau sedang pulang kampung. Gerobak gorengan ini bisa dengan mudah kita temui di pasar atau pinggir jalan. Tapi favorit saya tetap gorengan yang mangkal di pasar Ungaran. Biasanya mulai buka sore hari pukul 4, dan beranjak tutup pada pukul 8. Meskipun sudah berganti penjual, tapi nuansa dan rasanya tetap mirip - miriplah. Yang saya suka, gorengan disini besar - besar. Ada mendoan dengan ukuran besar dan selimut tepung yang royal, tahu susur (tahu isi) dengan isi yang tidak pelit, pisang goreng, dan tak lupa tahu petis yang otentik. Favorit saya, mendoan plus bumbu petis dibungkus untuk cocolannya. Lazis.

Jajan Pasar Unix Cafe

Buka setiap pagi di sebelah pom bensin jalan Asmara. Dulu bentuknya semacam angkringan, dan sekarang sudah masuk toko kecil di tempat yang sama. Yang dijual aneka jajan pasar mulai dari lumpia, tahu bakso, resoles, bolu kukus, macaroni schotel, dsb. Ada juga lauk dan sayur porsian seperti botok, buntil, dkk. Dan diperlengkap dengan nasi kuning, nasi uduk, nasi rames, Mie goreng, kadang - kadang ada jus juga. Sebut sajalah semua ada. Bikin bingung yang beli juga. Suami suka jalan - jalan pagi kemudian pulangnya mampir kesini dan memborong aneka jajan untuk dibawa pulang.

Bakso Tengkleng Wonogiri

Terletak di ruko perumahan Sebantengan. Kalau ini favorit suami. Bakso dengan tengkleng atau iga. Tag line nya 97% daging 3% tepung. Ketika mencoba memang baksonya kress terasa dagingnya, dan memang bakso semacam inilah yang disuka suami saya, jadi warung bakso ini sudah pasti jadi list wajib suami kalau pulang kampung ke Ungaran. Ada juga Mie ayam dan Mie ayam bakso yabg gak kalah enaknya. Harganya memang diatas harga rata - rata bakso kaki lima pada umumnya, tapi sesuai dengan kepuasan yang didapat.

Well, sebenarnya masih banyak lagi kuliner lain, seperti Kay Ramen, pempek bu daud, rocket chicken, Sambel Layah, olive chicken, London Jowo cafe, dan aneka jajan khas ungaran seperti tahu bakso, torakur, dsb. Tapi saya tahu anda sudah bosan dengan penjelasan saya yang penjang lebar ini. Tidak hanya Di Ungaran saja sebenarnya, tapi di area Kabupaten Semarang ini banyak sekali ragam kuliner yang bisa memuaskan lidah kita. Kiranya gambar - gambar di bawah ini bisa sedikit menggambarkan apa yang tidak bisa saya tuangkan dalam kata - kata, juga sebagai pengobat rindu bagi saya yang belum bisa move on dengan beraneka makanan disana.

Dear Ungaran, I miss U already. Hiks.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Maksimalkan Cantik Alamimu dengan Perawatan Tubuh Praktis ala Velvy Beauty

Punya suami yang tak romantis itu seringkali membuat diri ini gigit jari. Bayangkan saja, selama 7 bulan pacaran hingga 7 tahun menikah, tak pernah sekalipun ia memberi bunga atau puisi yang sering diharap - harap sang istri.                                         Padahal istrinya ini ingin sekali merasakan berbunga - bunganya hati ketika diberi sekuntum mawar. Setidaknya, setahun sekali lah, pada saat ulang tahun atau wedding anniversary. Meski sudah diberi kode keras, namun tak pernah sekalipun ia mengabulkannya. Sebagai ganti, ia selalu membawa cake ulang tahun untuk dikunyah bersama. Oh my god . Suami saya ini selalu punya pembelaan sendiri kenapa tak pernah mau memberikan bunga untuk istrinya. Katanya, kalau bunga adalah lambang cinta, maka bunga itu pasti layu dan berguguran. Sementara cintanya pada sang istri akan selalu abadi dan berkembang. sumber : tenor.c...

Peduli Kesehatan Diri dan Keluarga, Jadi Smart Milenial Bersama Sequis Life

Bagi yang sudah merasakan manfaatnya, asuransi kesehatan saat ini sudah menjadi kebutuhan yang sama pentingnya seperti kebutuhan sandang, pangan dan papan. Terutama bagi mereka yang memiliki riwayat atau resiko kesehatan atas penyakit tertentu. Namun pemahaman akan pentingnya asuransi kesehatan ini sepertinya belum menyentuh semua lapisan masyarakat. Termasuk generasi milenial yang katanya melek informasi dan adaptif terhadap teknologi. Padahal asuransi kesehatan memiliki peranan lain, selain melindungi diri dari ancaman kesehatan yang mengintai. Apa saja? Dan, asuransi kesehatan seperti apa yang bisa dijadikan pilihan kaum milenial? Sumber gambar : Pixabay.com Milenial dan Asuransi Kesehatan Menurut Wikipedia, milienial adalah generasi yang lahir antara tahun 1980 – 2000. Jika dihubungkan ke masa sekarang, ternyata generasi milenial ini sebagian besar sedang memasuki masa usia produktifnya. Dan sebagian lagi sedang berancang – ancang memasuki usia produktif. Pada u...

Hidup Penuh Warna Ibu Rumah Tangga, Semakin Ceria dengan ASUS VivoBook Ultra A412DA

Kelihatannya tak bekerja. Tapi setiap hari menjadi chef untuk menjamin isi perut setiap anggota keluarga. Menjadi tukang ojek untuk mengantar jemput anak sekolah. Atau menjadi guru ketika membimbing anak belajar.   Begitulah aneka rangkap profesi yang saya lakoni dalam menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga. Ditambah dengan tingkah duo krucil yang terkadang membuat pusing kepala, hidup saya benar – benar penuh warna.  Yang saya tahu, deretan warna itu terbentang lebar dari kode #000000 hingga #ffffff. Artinya tak hanya warna cerah ceria saja yang tercatat disana. Ada juga warna – warna kelabu, sepekat mendung yang merayu. Dan begitulah keseharian saya dalam menjalankan aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Tak selalu penuh sukacita, tapi ada juga pahit – pahitnya.  Tentunya bukan hanya saya saja yang merasa demikian. Mau itu ibu bekerja atau ibu rumah tangga, saya yakin keseharian ibu – ibu lainnya juga penuh warna, dinamis, serta tak jauh m...