Skip to main content

Tips Anti Rempong untuk IRT Tanpa ART

Sumber : www.sheinthecle.com

Ketika memutuskan menjadi ibu rumah tangga demi merawat putri kecil saya Kirana, sebenarnya tak pernah terlintas di pikiran untuk survive tanpa bantuan ART. Sejak awal, saya dan suami sepakat untuk menghire ART agar saya fokus merawat si kecil. Rasanya nggak kebayang juga jika saya harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga yang seabrek itu sambil momong bayi.

Saat masih tinggal bersama orangtua dulu, keluarga saya dibantu oleh seorang ART yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Pokoknya ART idaman banget deh. Namanya mbah Ni. Ia bekerja di rumah kami 16 tahun lamanya. Alasan resignya waktu itu juga sederhana sekali, untuk merawat cucu karena ibunya bekerja dan tak ada yang menjaga.

Bayangan ART yang saya inginkan ya sosok yang mirip mbah Ni ini. Jujur, setia, rajin, pinter masak nggak neko - neko. Namuuun, mencari sosok ART ideal di jaman sekarang ternyata nggak mudah ya.

Pengalaman saya dengan ART pertama cukup mengecewakan. Sudah kerjanya nggak rajin- rajin amat.. Kalo dikasih tau malah mbantah ngasih alasan panjang lebar. Dan sebagainya yang bikin hati saya kesaall. Mulanya saya dan suami berusaha sabar meskipun sebenarnya saya sudah menahan kodok, eh nggondok dalam hati. Sampaii akhirnya ketahuan kalau selama ini si mbak ART suka nilep uang belanja. Yang ini sih nggak bisa saya tolerir lagi. Masih teringat wajah pucat pasi mbak ART  ini ketika saya interogasi. Ngibulin soal belanjaan kok sama orang yang sukanya main ke pasar..hohoh. Sepertinya si mbak ART  juga kaget  ngeliat tampang galak saya, berbeda dengan sehari - hari yang kayaknya nyantai, kalem, friendly, sabar, lemah lembut  dan pencitraan lainnya (hoeek).. segitu kagetnya si mbak ART sampai memandang wajah sayapun nggak berani. Nggak pakai mikir lama, si mbak ART ini akhirnya saya rumahkan.

Malas berurusan dengan ART lagi, akhirnya saya berusaha untuk survive tanpa bantuan ART. Mulai dari masak, nyapu, ngepel, nyetrika, momong, ngangkat galon. Semuaaa dilakoni dhewe karena bapake bangsa pekerja yang berangkat pagi pulang malam. Jadi, mana sempat bantu - bantu mamake.

Meski nggak dibantu bapake, saya sendiri selalu mengusahakan agar pekerjaan rumah tangga segera diselesaikan pada pagi hari. Jadi sebisa mungkin saya bangun sepagi - paginya sebelum ndoro putri bangun. Soalnya kalau Kirana sudah bangun bakalan nemplok terus kayak lem.

Yang pertama saya lakukan di pagi hari adalah masak. Ya masak lauk pauk, cemilan, mpasi, semua saya lakukan di pagi hari. Alasannya sih, karena suami selalu bawa bekal buat makan siang, hahah. Nggak juga sih, bagi saya ketika segala hidangan sudah tertata rapi di meja makan pada pagi hari, rasanya beban pekerjaan untuk hari itu sudah berkurang separo. Lega gitu rasanya.

Awal - awal rasanya beraaaat banget. Tapi lama - lama ya akhirnya terkendali dan bisa - bisa saja ternyata survive tanpa ART sambil momong anak. Untungnya saya hidup di jaman now dimana saya banyak terbantu oleh peralatan elektronik  seperti magic jar, mesin cuci, dan kawan - kawan. Jadi rasanya malu aja kalau masih mengeluh, sementara ibu moyang kita jaman dahulu harus survive tanpa bantuan benda - benda ajaib itu. 

Sampai hamil anak kedua pun saya tetap survive tanpa bantuan ART.

Namun rasa jiper mulai muncul ketika memikirkan dinamika kehidupan setelah anak  kedua nanti lahir (halah). Momong bayi, momong balita, plus beberes segala urusan rumah tangga. Tanpa ART? Sanggup nggak yaaa?

Jawaban pertama saya dalam hati adalah. KU TAK SANGGUUUP, BILAA..... Yang kemudian akhirnya berlanjut dengan drama pencarian ART kembali.

Singkat cerita, seminggu sebelum lahiran anak kedua akhirnya saya dapat ART, seorang ibu setengah baya yang baik, ngemong, lumayan rajin, dan jago masak juga. ART ideal yang hampir membuat saya klepek - klepek. Sampai akhirnya saya tahu bahwa segala kelembutan tutur kata dan pembawaannya itu hanyalah kedok dan pencitraan semata. Untuk memanfaatkan saya yang kelihatannya baik dan mudah terkena tipu daya.

Ah, intinya ART yang kedua inipun juga nggak kalah mengecewakan sehingga membuat saya give up dan kapok berurusan dengan yang namanya ART.

Mau nggak mau akhirnya saya harus kembali survive. Kali ini bersama tambahan personil baru si kecil Aruna.

Tau nggak sih, sebenarnya saya ngempet nangis ketika memecat ART kedua ini, karena membayangkan hari - hari saya ke depannya yang pasti bakalan berat tanpa bantuan bu ART ini.

Namun bagaimanapun juga mamak - mamak ini harus kuat dan strong. Nggak boleh manja dan kalah sama kekhawatiran dalam hati.

Momong bayi, momong balita, plus beberes segala urusan rumah tangga. Tanpa ART? Memag berat makk. Tapi alhamdulillah saya bisa mengatasinya. Dan masih survive hingga saat ini.

Tahu pepatah ini nggak? What doesn't kill you, will makes you stronger. Kira - kira itulah yang saya rasakan. Awalnya berat banget, tapi lama - lama ya akhirnya terbiasa. Hikmahnya alhamdulillah nggak perlu olahraga lagi. Mamak tetap langsing karena gerak terus.

Lalu apa saja tipsnya? Supaya mak mak IRT anak 2 tidak hanya survive tanpa ART, namun juga tetap waras?


  1. Disiplin bangun pagi. Disiplin bangun pagi itu it's a must buat mak -  mak tanpa ART. Nggak ingin rejekinya dipatok ayam kan? Saya sendiri mulai beraktivitas sejak pukul 4 pagi. Biasanya pukul 7 pekerjaan rumah tangga sudah beres semuanya dan bisa fokus ke anak - anak.
  2. Say goodbye to nyetrika baju rumah. Ini sebenenarnya ide pak suami yang merasa bahwa pekerjaan nyetrika baju rumah itu wasting time karena baju - baju itu bakalan kusut lagi setelah kita pakai. Lagian cuma buat di rumah doang buat apa disetrika. Kata suami, ibu - ibu di negara Jepang yang maju juga rata - rata nggak menyetrika baju rumah. Baju - baju rumah itu cukup dilipat yang rapi saja. Sebaiknya sih pilih bahan baju rumah yang halus dan tidak mudah kusut.
  3. Say hi to laundry setrika. Sekarang saya lebih suka menggunakan jasa laundry setrika untuk menyetrika baju - baju kantor suami dan baju pergi lainnya yang butuh disetrika. Biasanya baju - baju itu saya kumpulkan per 2 minggu untuk disetrika. Cuma 20 - 30 ribu rupiah saja. Lumayan hemat dan mengurangi beban kerja saya.
  4. Don't worry to order catering. Ketika sedang tidak sanggup masak, maka saya selalu mengandalkan jasa katering rumahan langganan, yang bentuknya rantangan lauk pauk dan sayur. Jadi saya cukup masak nasi dan makanan anak saja.  Jajan di luar juga oke
  5. Berdamai dengan rumah yang berantakan. Idealnya sih kalau suami pulang kantor rumah sudah kinclong, bersih, istri juga dandan wangi. Tapi dengan 2 balita dirumah, kondisi rumah pasti bakal selalu acak - acakan. Suerrr Daripada stress memikirkan rumah yang perasaan nggak pernah rapi, lebih baik ikut main bareng si kecil. Pahamkan suami juga bahwa untuk saat ini kondisi kita memang sedang rempong - rempongnya. Jadi untuk para suami, harap maklum ya.

Yang terpenting, untuk mak - mak IRT sekalian, jangan lupa untuk selalu makan teratur dan jaga kondisi badan. Karena pekerjaan ini memang menuntut kita untuk terus aktif dari pagi hingga ke peraduan. Meskipun boyok pegel linu namun nikmati saja fase ini dengan ikhlas dan sabar. Niatkan saja untuk ibadah agar pekerjaanmu ini berkah dan bernilai pahala dari-Nya.Insya Allah kerempongan ini nggak selamanya kok. Tetap sehat dan semangat yaa, mak mak sekalian :).

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Maksimalkan Cantik Alamimu dengan Perawatan Tubuh Praktis ala Velvy Beauty

Punya suami yang tak romantis itu seringkali membuat diri ini gigit jari. Bayangkan saja, selama 7 bulan pacaran hingga 7 tahun menikah, tak pernah sekalipun ia memberi bunga atau puisi yang sering diharap - harap sang istri.                                         Padahal istrinya ini ingin sekali merasakan berbunga - bunganya hati ketika diberi sekuntum mawar. Setidaknya, setahun sekali lah, pada saat ulang tahun atau wedding anniversary. Meski sudah diberi kode keras, namun tak pernah sekalipun ia mengabulkannya. Sebagai ganti, ia selalu membawa cake ulang tahun untuk dikunyah bersama. Oh my god . Suami saya ini selalu punya pembelaan sendiri kenapa tak pernah mau memberikan bunga untuk istrinya. Katanya, kalau bunga adalah lambang cinta, maka bunga itu pasti layu dan berguguran. Sementara cintanya pada sang istri akan selalu abadi dan berkembang. sumber : tenor.c...

Peduli Kesehatan Diri dan Keluarga, Jadi Smart Milenial Bersama Sequis Life

Bagi yang sudah merasakan manfaatnya, asuransi kesehatan saat ini sudah menjadi kebutuhan yang sama pentingnya seperti kebutuhan sandang, pangan dan papan. Terutama bagi mereka yang memiliki riwayat atau resiko kesehatan atas penyakit tertentu. Namun pemahaman akan pentingnya asuransi kesehatan ini sepertinya belum menyentuh semua lapisan masyarakat. Termasuk generasi milenial yang katanya melek informasi dan adaptif terhadap teknologi. Padahal asuransi kesehatan memiliki peranan lain, selain melindungi diri dari ancaman kesehatan yang mengintai. Apa saja? Dan, asuransi kesehatan seperti apa yang bisa dijadikan pilihan kaum milenial? Sumber gambar : Pixabay.com Milenial dan Asuransi Kesehatan Menurut Wikipedia, milienial adalah generasi yang lahir antara tahun 1980 – 2000. Jika dihubungkan ke masa sekarang, ternyata generasi milenial ini sebagian besar sedang memasuki masa usia produktifnya. Dan sebagian lagi sedang berancang – ancang memasuki usia produktif. Pada u...

Hidup Penuh Warna Ibu Rumah Tangga, Semakin Ceria dengan ASUS VivoBook Ultra A412DA

Kelihatannya tak bekerja. Tapi setiap hari menjadi chef untuk menjamin isi perut setiap anggota keluarga. Menjadi tukang ojek untuk mengantar jemput anak sekolah. Atau menjadi guru ketika membimbing anak belajar.   Begitulah aneka rangkap profesi yang saya lakoni dalam menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga. Ditambah dengan tingkah duo krucil yang terkadang membuat pusing kepala, hidup saya benar – benar penuh warna.  Yang saya tahu, deretan warna itu terbentang lebar dari kode #000000 hingga #ffffff. Artinya tak hanya warna cerah ceria saja yang tercatat disana. Ada juga warna – warna kelabu, sepekat mendung yang merayu. Dan begitulah keseharian saya dalam menjalankan aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Tak selalu penuh sukacita, tapi ada juga pahit – pahitnya.  Tentunya bukan hanya saya saja yang merasa demikian. Mau itu ibu bekerja atau ibu rumah tangga, saya yakin keseharian ibu – ibu lainnya juga penuh warna, dinamis, serta tak jauh m...